Pesan Imam Malik: Meneladani Sifat Mulia Imam Darul Hijrah

buku pesan imam malik

Salah satu hal positif yang kulakukan di tahun 2021 adalah lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca buku. Sebuah buku bersampul coklat dengan judul Pesan Imam Malik karya Rosyid Shobari menjadi penutup bacaanku di penghujung tahun ini. Dan rekapan singkat dari buku ini akan menjadi tulisan pertama di blog ini.

Kita sebagai seorang muslim pasti tidak asing dengan nama Imam Malik. Tapi, mungkin kebanyakan dari kita hanya sekedar tau nama tapi menganga ketika ditanya bagaimana kisah hidupnya. Setidaknya itu yang terjadi padaku sebelum membaca buku ini.

Lalu siapa sosok Imam Malik itu?

Imam Malik bin Anas adalah seorang alim ulama yang lahir pada tahun 93 Hijriah dan menjadi salah satu dari empat imam mazhab yang banyak diikuti saat ini. Imam Malik juga merupakan guru dari Imam Syafi’i. Pada masa Imam Malik, Madinah adalah gudang ilmu dengan banyaknya ulama yang sangat berkompeten sehingga Imam Malik saat itu mencukupkan diri dengan mencari ilmu di Madinah saja sehingga pada akhirnya beliau memilki gelar Imam Darul Hijrah, yaitu imamnya Kota Madinah. Karya beliau yang paling terkenal adalah kitab al-Muwaththa’. Kitab al-Muwaththa’ adalah kitab yang berisikan tentang fiqih dan hadis yang telah beliau seleksi kandungan isinya dengan sangat hati-hati dalam kurun waktu 40 tahun.

Semasa hidupnya, Imam Malik dikenal sebagai sosok ulama yang cerdas, berprinsip teguh, zuhud, tawadhu’, dan masih banyak sifat mulia lainnya yang beliau miliki. Buku Pesan Imam Malik, berisikan tentang 21 pesan yang diteladani dari sifat hidup beliau agar kita lebih berhati-hati dan mawas diri dalam berperilaku dan berucap saat menjalankan kehidupan di dunia ini.

Berikut ini adalah lima teladan yang bisa diambil dari sifat hidup beliau dan harapannya dapat menjadi pengingat bagi kita untuk menjalankan kehidupan kedepannya:

Mencari Ilmu dari Sumber yang Jelas

Nabi Muhammad ﷺ tidak mewariskan harta benda, namun beliau mewariskan ilmu agama kepada umatnya untuk bekal menjalani hidup di dunia. Masalahnya, fenomena umum yang terjadi saat ini adalah banyak umat Islam yang berpikir bahwa menuntut ilmu agama itu cukup bagi mereka yang mondok di pesantren atau yang kuliahnya di jurusan-jurusan yang berkaitan dengan agama. Sehingga ilmu agama banyak diabaikan oleh mereka peminat ilmu-ilmu “duniawi”. Pemahaman inilah yang pertama kali harus diluruskan, bahwa menuntut ilmu agama itu hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim.

Imam Malik meskipun terlahir dari keluarga ulama, beliau tetap menuntut ilmu dari ulama-ulama terbaik di Kota Madinah saat itu. Hal ini memberikan hikmah kepada kita akan pentingnya mencari guru yang dapat dipercaya agar mendapatkan ilmu yang bemanfaat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan ilmu digital yang semakin maju saat ini membuat kita semakin mudah untuk belajar ilmu agama namun disisi lain juga semakin berisiko terpapar ajaran yang menyimpang. Memahami ajaran agama dari sumber yang jelas menjadi sangat penting untuk diketahui. Al Qur’an dan hadis adalah dua sumber ajaran yang harus kita jadikan sebagai rujukan saat menuntut ilmu agama.

Menuntut Ilmu yang Bermanfaat

Lalu apakah cukup bagi kita untuk hanya menuntut ilmu? Tentu saja tidak. Setelah menuntut ilmu, kita harus berusaha mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan kita. Ilmu yang hanya sampai di kepala, belum bisa dikatakan sebagai ilmu yang bermanfaat. Kita ambil contoh misalnya, kita semua tau bahwa melaksanakan sholat di awal waktu adalah lebih utama. Namun berapa banyak dari kita yang menyegerakan sholat ketika adzan selesai berkumandang? Tau bahwa sholat di awal waktu itu lebih utama adalah ilmu. Namun ketika kita belum bisa mengamalkan ilmu yang kita ketahui tersebut, maka ilmu itu belum bisa pula dikatakan sebagai ilmu yang bermanfaat.

Imam Malik sebagai sosok imam mazhab sudah pasti beliau mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Bahkan di tingkat yang jauh lebih tinggi, ilmu beliau juga bermanfaat bagi jutaan orang di dunia ini. Berapa banyak orang yang telah mempelajari kitab al-Muwaththa’ dan menjadikannya sebagai rujukan? Berapa banyak orang yang meneladani sifat beliau? Berapa banyak pula penganut mazhab Maliki selama ini? Tentu saja tak terhitung jumlahnya. Untuk itu kita sebagai umat muslim, setidaknya berusaha untuk memanfaatkan ilmu yang telah kita pelajari bagi diri kita sendiri. Dan jika ingin mencoba melangkah lebih jauh, kita dapat menjadikan ilmu itu bermanfaat bagi keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

Berbicara Sesuai Kemampuan

Kita semua pasti setuju jika bekal berbicara adalah ilmu. Terlebih jika membahas ilmu agama. Tanpa ilmu yang benar, seseorang bisa tersesat dan bahkan menyesatkan orang lain. Ia bisa mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Apalagi kita sebagai golongan awam harus berhati-hati dalam mengatakan suatu hal yang berkaitan dengan agama, sebelum kita benar-benar mengetahui perkara tersebut.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Imam Malik mendapatkan 48 pertanyaan yang datang kepadanya. Dari 48 pertanyaan itu beliau menjawab 32 pertanyaan dengan jawaban “la-adri” atau dalam Bahasa Indonesia artinya adalah “saya tidak tahu”. Sebagai ulama besar, apakah beliau malu karena menjawab tidak tahu? Apakah beliau gengsi? Sama sekali tidak. Ulama terdahulu sangat paham beratnya konsekuensi berucap tanpa ilmu yang benar. Ketika mereka merasa tidak memiliki kemampuan untuk menjawab sebuah pertanyaan, mereka tidak segan menjawabnya dengan jawaban “saya tidak tahu”. Sifat hati-hati inilah yang justru menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu.

Menghargai Perbedaan Pendapat

Ketika membahas perkara agama, kita pasti tidak asing dengan istilah khilafiah atau perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Khilafiah dalam perkara agama juga telah terjadi di zaman Imam Malik. Namun, para ulama di masa itu sudah terbiasa dengan perbedaan pandangan dan menghargai perbedaan yang ada dengan sikap tasamuh (toleran).

Sebagai ulama besar kala itu, Imam Malik tidak ingin memaksakan pendapatnya agar menjadi satu-satunya pendapat yang diikuti. Diriwayatkan pernah suatu ketika khalifah saat itu meminta persetujuan Imam Malik untuk menyebarluaskan kitab al-Muwaththa’ ke negeri-negeri kaum muslimin dengan maksud agar orang-orang menjadikan kitab karya Imam Malik menjadi rujukan utama dan meninggalkan semua riwayat hadis yang lain. Namun dengan tegas Imam Malik menolak permintaan sang khalifah. Imam Malik tidak ingin memaksakan pendapatnya dan ingin membiarkan umat Islam tetap pada pendapat yang mereka anut.

Begitulah sosok Imam Malik. Meskipun beliau adalah ulama besar, ulama yang sangat dipandang saat itu, namun sifat tawadhu´ dan tasamuh beliau tidak kalah besar dari namanya. Sifat mulia inilah yang patutnya kita teladani terlebih di zaman sekarang dimana khilafiah semakin sering terjadi. Luasnya pemahaman ilmu dalam agama Islam, seharusnya dapat menyadarkan kita untuk tidak bersikap fanatik, apalagi fanatisme buta yang dapat menjerumuskan kita ke dalam perdebatan yang tidak bermanfaat.

Bersikap Zuhud

Sikap zuhud adalah suatu sikap ketika seseorang tidak diperbudak oleh harta benda duniawi, tidak pula kecintaan seseorang terhadap perkara-perkara duniawi menjadi puncak segala kecintaannya. Zuhud bukan bermakna tidak memiliki harta, tetapi zuhud adalah ketika hati tidak selalu memikirkan harta tersebut. Zuhud tidak pula bermakna bahwa seseorang tidak boleh memiliki kekayaan, namun zuhud adalah ketika kekayaan yang dimiliki tidak menjadikannya lalai dari kehidupan akhirat.

Semasa hidupnya, Imam Malik merupakan sosok pribadi yang sangat zuhud. Dengan segala ketenaran yang dimiliki, Imam Malik tidak memanfaatkan posisi tersebut untuk mengumpulkan harta kekayaan. Bahkan Imam Malik pernah diberi 3.000 dinar oleh khalifah agar beliau membeli rumah. Imam Malik menerima pemberian tersebut namun tidak untuk membeli rumah, beliau justru membagikannya ke jalan-jalan kebaikan.

Seorang yang berjiwa zuhud adalah orang yang senantiasa meyakini bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dibandingkan apa yang ada di sisinya. Orang yang memiliki keyakinan kuat kepada Allah, hatinya penuh harap akan ridha-Nya dan kehidupan kekal di akhirat sehingga hatinya tidak akan disibukkan oleh kekayaan dan kehormatan duniawi.

Zuhud itu bukanlah ketiadaan harta, tetapi mengosongkan hati daripadanya.

– Imam Malik

Itulah beberapa sifat mulia Imam Malik yang bisa kita teladani sebagai bekal kita untuk hidup di dunia ini. Dan jika teman-teman ingin lebih mengenal sosok Imam Malik, video ceramah di bawah ini bisa dijadikan sebagai sumber untuk lebih mengenal beliau.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

arrow top icon